Penampilan mobil Kancil di jalur-jalur padat Kota
Jakarta ternyata banyak mengundang minat warga Ibu Kota yang melihatnya.
Mulai hanya sekadar ingin merasakan menumpang mobil mungil ini, sampai
yang berpikir untuk memilikinya sebagai kendaraan pribadi.
Dengan harga sekitar Rp 40 juta, harapan bagi mereka yang ingin
meningkatkan kelas dari sepeda motor ke kendaraan yang bisa melindungi
badan dari terpaan angin, hujan, maupun terik Matahari pun meningkat.
Apalagi, kalau dipoles lebih halus, Kancil dapat menjadi kendaraan
alternatif bagi mereka yang sudah memiliki kendaraan roda empat.
Bagi mereka yang gemar memodifikasi kendaraan, mulai dari cat,
aksesori hingga mesin, "menggarap" Kancil tentu bisa lebih menarik.
Kecepatan maksimum 60 kilometer per jam akan bisa ditingkatkan meski
untuk kondisi seperti di Jakarta yang padat kecepatan rendah memang
bukan masalah.
Dalam kondisi harga bahan bakar yang terus melambung, tentu akan
lebih menarik jika kendaraan mungil 400 cc ini dirancang hemat bahan
bakar. Bahkan, jika negara mau ikut campur, bisa ditingkatkan menjadi
Kancil biru, yaitu dengan menggunakan bahan bakar gas alam atau bahkan
menjadi kendaraan listrik.
Alternatif-alternatif yang menarik ini tampaknya memang kurang
dipikirkan pengelola negeri ini. Bukan hanya bagaimana mengurangi
ketergantungan pada BBM, tetapi juga ketergantungan pada negara lain
dengan impor kendaraan.
Jika benar Kancil itu orisinal dikembangkan perusahaan dalam negeri,
pantas jika produknya disebut sebagai mobil nasional (mobnas).
Sejarahnya tentu berbeda dengan yang pernah terjadi pada mobil Timor
yang sampai saat ini tidak berkelanjutan lagi.
KESAN pertama dan yang utama seandainya Kancil bisa menjadi mobil
pribadi adalah semakin penuhnya kota seperti Jakarta ini. Dengan
kendaraan yang notabene dibuat negara asing saja sekarang sudah sulit
mencari jalan-jalan yang nyaman.
Tetapi, apakah mobil murah lalu tidak boleh ada di kota yang sudah
penuh sesak ini? Apakah tidak boleh negeri ini membangun kendaraannya
sendiri meski membuat motor saja tidak pernah dilakukan.
Yang menarik adalah mengapa pihak produsen mobil Kancil sejak awal
justru hanya menginginkan membentuk brand image kendaraan umum khas
Indonesia. Bahkan, secara tegas mereka mengungkapkan konsep Kancil
mereka ciptakan untuk kendaraan umum dan niaga saja. Bukankah ini justru
merupakan sikap yang mengarah pada monopoli pengadaan kendaraan?
Memang terasa aneh jika pada era seperti sekarang masih ada
keinginan untuk memonopoli jenis kendaraan umum. Seharusnya bukan merek
atau jenis kendaraan keluaran produsen tertentu yang boleh menggantikan
kendaraan yang dianggap tidak sesuai lagi.
Bajaj yang diincar untuk digantikan Kancil sebenarnya juga bukan
"asli" Indonesia. Sangat tidak bijaksana apabila nanti ada surat
keputusan dari siapa pun untuk menggantikan Bajaj dengan kendaraan
tertentu jenis lain.
Seharusnya yang pertama perlu dipikirkan adalah bagaimana melindungi
udara di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Jika Bajaj
tidak bersahabat dengan lingkungan, karena menggunakan mesin dua tak
(langkah), harus dicari kendaraan yang lebih baik dan ini harus
dilakukan secara bertahap, bukan dengan semena-mena.
Tentu bukan hanya kendaraan mungil serupa yang diproduksi perusahaan
tertentu, tetapi juga buatan pabrik lain yang memenuhi syarat lebih
akrab dengan lingkungan. Katakanlah Bajaj Biru yang menggunakan bahan
bakar alternatif seperti gas alam, bisa juga kendaraan mungil bermotor
listrik.
Yang menarik adalah seperti yang dilakukan Swiss dengan program
kemitraan yang disebut SwissEnergi. Program ini bertujuan untuk
memperjuangkan upaya pengefisienan energi dan penggunaan energi yang
baru. Dengan petunjuk dari Swiss Federal Office of Energy (SFOE) program
ini mendukung proyek-proyek riset yang bertujuan untuk mengurangi
konsumsi energi.
Salah satu fokusnya adalah kendaraan hibrida (campuran mesin bensin
dengan mesin listrik). Selain itu, juga upaya mengurangi berat kendaraan
akan sangat efektif untuk merendahkan konsumsi energi.
Memang biasanya yang bisa dipaksa untuk mempergunakan kendaraan
alternatif adalah kendaraan umum, terutama yang dikelola oleh
pemerintah. Namun, apabila hal ini memungkinkan dan diterima masyarakat,
mengapa tidak dilepas untuk bisa dimiliki masyarakat luas secara
pribadi.
Bahkan, perusahaan otomotif di negara-negara seperti Eropa juga
mengembangkan jenis kendaraan mungil ini untuk kebutuhan pribadi. Tentu
saja dengan model-model yang menarik.
Tidak mustahil dalam waktu dekat kendaraan yang model dan bentuknya
mirip dengan Kancil juga menyerbu Indonesia. Kendaraan mungil bukan
hanya lebih murah dan rendah konsumsi bahan bakar, tetapi juga hanya
sedikit memakan badan jalan dan sesuai untuk fisik orang Indonesia
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar