Adu Cepat Teknologi �Jet Darat� F1
Senin, 13 April 2009 01:28
Hasil dari Grand Prix Formula One (F1) sering kali di luar dugaan. Hal itu dikarenakan selalu ada yang baru dalam pengembangan desain dan spesifi kasi.
Ada kejutan pada seri perdana F1 Australia, 29 Maret lalu. Tidak banyak yang menduga dua pembalap tim Brawn GP�nama baru dari tim Honda Racing�bertengger di podium juara jet darat tersebut. Dengan mobil BGP 100, Jenson Button berhasil menjadi jawara, dibuntuti Rubens Barrichello. Begitu juga dengan hasil GP F1 di Malaysia sepekan kemudian (5 April 2009), Brawn GP berhasil mempertahankan posisi lewat Jenson Button.
Kemenangan tim Brawn GP berurut-turut merupakan hal lumrah bila menengok tokoh di balik mobil BGP 100. Pasalnya, mobil itu diciptakan mantan direktur teknik Ferrari Ros Brown. Ia kini menjadi big boss untuk tim Brawn GP.
Brown pernah mengantarkan kesuksesan tim �kuda jingkrak� Ferarri dengan pembalapnya Michael Schumacher (1996-2006). Ahli strategi F1 itu juga piawai merancang mesin, termasuk memilih komponen lain seperti ban dan strategi pit stop secepat mungkin.
Pada sektor dapur pacu BGP 100, tim Brawn menanamkan mesin Mercedes Benz tipe FO 108W berkapasitas 2.400 cc. Mesin tersebut memiliki spesifikasi delapan silinder dengan ukuran piston 98 milimeter sehingga BGP 100 mampu digeber hingga 18.000 rpm. Sistem transmisinya menggunakan gear box tujuh percepatan dengan komposit karbon. Mesin tersebut ditopang konstruksi sasis bermaterial serat karbon, yang ringan namun kokoh.
Pada sistem aerodinamika, Brawn memasang sayap depan BGP 100 berelemen dek. Pada bagian atasnya dipasang dua panel sayap ganda secara pararel. Tujuannya agar udara dari depan bisa langsung ke roda depan. Sayap depan tersebut dipasang sangat rendah untuk mempertahankan pusat gravitasi.
Bagian hidung didesain mengerucut landai ke bawah. Hal ini berguna sebagai pemberat dan stabilisator saat kendaraan berakselerasi atau menikung tajam. Sedangkan untuk membantu memperlancar aliran udara dari sayap dan roda depan, lengan kemudi di depan suspensi posisinya dirancang di bawah garis tulang garpu.
Sistem aerodinamika tersebut juga pernah diuji tim Williams. Lantaran kesamaan fungsi, sistem aerodinamika tersebut disebut �salju menjalar� (snow plough). Semua aliran udara di bagian alas (splitter) mobil tersebut berjalan ke arah belakang sampai membuat tenaga di bagian bawah (downforce). Hal itu yang menjadi salah satu alasan Brawn tidak menggunakan sistem Kinetic Energy Recovery System (KERS) seperti rival-rivalnya.
Teknologi KERS
Rival terdekat Brawn GP pada adu kebut di sirkuit Albert Park, Australia, yang menggunakan teknologi KERS adalah Red Bull Racing. Teknologi KERS berfungsi menyimpan energi yang dapat terbuang saat pembalap menginjak rem dan memungkinkan menambah kecepatan tambahan 80 tenaga kuda selama tujuh detik dalam setiap lap.
Tidak hanya teknologi KERS yang dapat mengantarkan pembalap Sebastian Vettel menduduki posisi ketiga kejuaraan GP F1 di Australia. Pendukung lain adalah mobil RB5 bermesin Renault RS27 dengan kapasitas 2.400 cc. Konstruksi mesin tersebut menggunakan silinder blok dari bahan almunium.
Mesin tersebut sebelumnya mampu digeber hingga 19.000 rpm. Namun, karena peraturan baru yang ditetapkan Federasi Internasional Otomotif (FIA), tim Red Bull Racing harus menurunkan menjadi 18.000 rpm. �Karena ketentuan tersebut, kami melihat penurunan signifikan kekuatan mesin,� ujar Koordinator Teknik Renault F1 Fabrice Lom.
Sementara itu, sistem aerodinamika RB5 adalah pemasangan sayap di roda depan yang berfokus pada generasi baru downforce. Sayap yang posisinya berada di bagian tengah merupakan upaya untuk menstabilkan aliran udara di antara roda depan.
Menurut Adrian Newey, Kepala Teknisi Renault, pusat dari sayap depan tersebut paling rentan terhadap ganguan aliran angin. �Maka itu, sebagai solusi, sayap diletakan pada bagian tengah,� ujar Newey.
Selain itu, spesifikasi RB5 yang baru ada pada sektor suspensi belakang. Tim Red Bull Racing memperkenalkan batang tarik belakang (pull rod), yang tidak akan ditemukan pada tim lainya. Desain baru itu diletakkan di bawah suspensi dan sasis mobil dengan tujuan mendapatkan aliran udara yang rendah di bagian belakang sayap. Selain itu, aliran udara dapat diperluas ke bagian bawah lantai mobil sehingga juga dapat menghasilkan downforce.
Mobil RB5 dalam kompetisi di Australia juga membuka pendingin ekstra di bagian sirip atas. Hal itu berfungsi agar pendingin internal bekerja lebih baik. Tambahan desain lainnya adalah pembuatan lubang kecil pada setiap sisi kokpit yang berguna agar mempelancar aliran udara ke bagian belakang.
Tim F1 yang patut diperhitungkan pada kompetisi GP F1 di Australia maupun di Malaysia adalah BMW Sauber. Tim ini menjadi juara keempat di Australia dan menduduki posisi kedua di Malaysia dengan mengandalkan BMW tipe P86/8 berkapasitas 2.400 cc. Sistem akselerasi usungan BMW Sauber itu menggunakan gearbox berbahan titanium, dilengkapi juga dengan teknologi KERS.
Willy Rampf adalah salah satu otak konsep BMW tipe P86/8 itu selain Walter Riedl yang sama-sama penanggung jawab bagian teknis kendaraan. �Membangun mobil F1 adalah salah satu yang paling menyenangkan. Tapi dalam kompetisi kali ini membangun mobil F1 merupakan sesuatu yang spesial,� tandas Rampf.
Rampf dan Riedl, dalam kompetisi di Australia, lebih menekankan perhatiannya pada desain sayap depan. Bagian panel sayap depan disambung dengan bemper mobil dari bahan alumunium. Desain tersebut juga membuat kerja suspensi dapat optimal. Bahkan, Riedl mengklaim desain sayap bagian depan tersebut dapat memberikan downforce dari sebelumnya. Selain itu, tim BMW Sauber memiliki kelebihan dalam membuat desain radiator sebagai pendingin mesin.
Sementara itu, tim Ferrari yang sering menjadi langganan juara dunia dalam kompetisi di Australia pembalapnya hanya mampu menduduki posisi ketujuh. Tim kuda hitam ini semakin terpuruk lagi pada kompetisi di Malaysia. Mereka hanya menduduki posisi kesembilan. Padahal dalam kompetisi tahun ini, Ferrari telah banyak melakukan modifikasi desain dari sebelumnya.
Perubahan terjadi pada sistem aerodinamika. Sayap depan memiliki profil netral yang diperluas dari sebelumnya. Selain itu, sayap belakang lebih tinggi dan sempit daripada masa lalu. Peraturan tentang aerodinamik juga menyebabkan perubahan suspensi sehingga harus dirombak dari desain semula. Bahkan juga mengharuskan Ferrari mengubah sistem transmisi untuk efisiensi aerodinamik mobil.
Selain itu, Ferrari menggunakan KERS hasil kerja sama dengan Magneti Marelli. Tim Ferrari memasang peranti KERS pada mesin bagian belakang sasis yang pengaturannya melibatkan Gestione Sportiva, sebuah divisi teknik Ferrari. Sedangkan, perangkat lunak yang mengatur kerja KERS adalah Maranello. Apakah teknologi tersebut tetap tidak mampu membangkitkan kembali Ferrari pada ajang GP F1 China pada akhir pekan ini? awm/L-4
AFP/SAEED KHAN
koran jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar